Judul : Di balik kesedihan tersimpan kenangan
Pengarang : Kifka Aabim Al Khidhriy
Kisah Nyata
Di Balik Kesedihan Tersimpan Kenangan
Hai, Nama ku adalah Kifka Aabim Al Khidhriy, Sering di panggil ifka, dulunya teman teman ku memanggilku abim, tapi di suatu hari yang lalu aku ingin merubahnya karna ada ucapan manis dari sang mantan memanggilku "abim", semenjak itu aku ingin merubah hidup ku, aku ingin melupakan mantan ku, dan akhirnya aku mengganti nama panggilanku menjadi "ifka".
aku berumur 18 tahun, baru lulus SMK tahun 2016 yang lalu, aku pikir inilah masa mudaku yang ingin aku isi dengan drama drama kehidupan yang menyenangkan, tapi keadaan ku tidak mendukung semua itu, aku di besarkan oleh keluarga pekerja keras, ayahku adalah seorang pedagang pigora dan pemijat reflexi, aku dididik untuk tidak manja, aku dididik untuk bekerja keras, dan aku dididik untuk bisa dalam segala hal. pada saat itu aku merasa iri dengan teman teman ku yang bisa menikmati masa muda nya dengan kesenangan, hidup berpindah pindah tempat untuk berwisata, dan menjalin hubungan yang romantis dengan kekasihnya masing-masing.
aku berumur 18 tahun, baru lulus SMK tahun 2016 yang lalu, aku pikir inilah masa mudaku yang ingin aku isi dengan drama drama kehidupan yang menyenangkan, tapi keadaan ku tidak mendukung semua itu, aku di besarkan oleh keluarga pekerja keras, ayahku adalah seorang pedagang pigora dan pemijat reflexi, aku dididik untuk tidak manja, aku dididik untuk bekerja keras, dan aku dididik untuk bisa dalam segala hal. pada saat itu aku merasa iri dengan teman teman ku yang bisa menikmati masa muda nya dengan kesenangan, hidup berpindah pindah tempat untuk berwisata, dan menjalin hubungan yang romantis dengan kekasihnya masing-masing.
aku adalah lulusan pondok pesantren dan aku baru mengenal kehidupan luar setelah aku lulus dari SMK, aku ingin menikmati kebebasan ku. bagaikan singa yang baru keluar dari sarang nya, aku haus akan darah kenikmatan dunia remaja. akupun setiap hari keluar malam pulang pagi untuk mempelajari dan menikmati sedetail detailnya kehidupan bebas ini, tapi aku terkendala dengan kondisi rumah yang selalu menuntut ku untuk membantu orang tuaku bekerja, karna setiap malam aku tidak tidur, jadinya aku tak bisa untuk menahan kantuk di siang hari, dan orang tua ku selalu memarahi sikapku ini, setiap hari terus berulang ulang, aku kena marah sampai kemarahan orang tuaku aku anggap biasa.
disuatu hari aku kehabisan uangku, aku gak punya apa apa untuk dibawa keluar rumah, aku terus meminta uang kepada orang tua ku, tapi di hari itu aku tidak diberi uang sama sekali, dan aku merasakan kesendirian yang luar biasa menyiksa. pada saat itulah aku mulai berfikir, apa keuntungan hidup seperti ini?, aku merasa bosan dengan kehidupan yang penuh dengan darah kenikmatan dunia ini, dan tak sengaja sambing memegang HP aku melihat foto bibiku di FB, dia mengapload foto riang gembiranya di AUSTRALIA, ya bibiku S2 dan S3 di Australia, setelah itu aku mulai berfikir apakah arti kebahagiaan yang sesungguhnya?
Aku Iri dengan bibiku yang bisa sekolah di Luar Negeri, tapi aku tidak ada harapan untuk sekolah disana, aku berfikir "apakah aku bisa keluar negeri? sedangkan aku tidaklah pintar, uangpun gak punya", tapi aku ingat ayahku tentang jiwa kesatria, jiwa kesatria adalah jiwa yang terus berusaha dan pantang menyerah, jiwa kesatria selalu mempunya keinginan bisa melebihi yang lainnya, pada saat itulah aku memutuskan bahwa aku bukannlah orang biasa, aku bukan orang yang umum dan aku ingin melebihi yang lainnya, tapi apakah aku mempunyai keunggulan itu? tidak! aku tidak mempunyainya, aku hanyalah orang biasa dan aku hanyalah orang seperti umum.
Aku menceritakan ini ke ayahku dan ke bibiku, dan sebuah bocoran sinar terang mulai terlihat, bahwa ayah dan bibiku hanyalah seorang yang biasa juga, orang yang umum juga, tapi kenapa mereka bisa sehebat ini dan sesukses ini? jawabannya adalah USAHA. dulunya bibi dan ayahku merupakan orang biasa juga, tapi karena USAHA yang melebihi orang lain, itulah yang menyebabkan mereka sukses, ketika yang lain tidur mereka masih sibuk berusaha, ketika yang lain berlibur mereka masih sibuk berusaha, tapi hasil akhir lah yang menentukan, siapa yang pantas mendapat Prediakat SUKSES diantar orang - orang lain, dari situlah aku punya inisiatif aku akan berusaha dan terus berusaha. selain usaha ada faktor X yang menentukan, yaitu bedoa dan selalu ikhlas melakukan kebaikan, inilah fator X yang jarang diketahui oleh kalayak umum, faktor X inilah yang membantu mereka menuju kesuksesan.
Aku pun mengawali usahaku dengan belajar bhs. Inggris di Kampung Inggris Pare Kediri, Awal mulanya aku tidak ingin menjadi seorang guru, tapi ketika aku sampai di Pare, ada Program gratis yang menawarkan belajar bhs. Inggris untuk Mengajar, karena Gratis akhirnya aku pun mengikuti Program tersebut, biaya yang kuhabiskan untuk kehidupan sehari hari terbilang banyak, karena itu aku berfikir bahwa aku tidak ingin melihat orang Tua ku kecewa. Secara tidak sadar ternyata Program yang aku ikuti adalah program menengah ke atas, dan aku menjadi murid terbodoh di kelas itu, aku tidak faham sama sekali apa yang diterangkan oleh para tutor, tapi aku punya ambisi bahwa aku bisa dan aku akan berusaha, aku mengikuti prinsip ayah dan bibiku, ketika yang lain santai aku tetap belajar, ketika yang lain tidur aku tetap belajar, dan ketika yang lain bersenang senang aku tetap belajar, tapi aku tidak ingin menunjukkan belajar ku, aku tidak ingin terlihat terlalu tekun dan mengabaikan semua teman temanku, jadi ketika ada yang mengajakku bersantai, aku pun ikut dengan mereka.
Program bhs. Inggrisku Telah berjalan 2 bulan, sampailah pada 1 bulan terakhir yaitu program mengajar di luar daerah, sebagai murid termuda dikelas, dan yang pernah merasakan begitu tersiksanya hawa pondok pesantren, aku berdoa supaya aku tidak mengajar di bagian PONDOK, tapi alhasil aku ditempatkan di bagian pondok di Mojokerto, ohhh sungguh tersiksa batin ku selama berhari hari, aku tidak bisa tidur karena terbayang bayang hawa siksaan pondok, dan aku mengeluh dalam batin "kenapa aku ditempatkan di pondok?" ,meskipun aku mengajar di sekolah formal, tapi mayoritas dari muridnya adalah anak pondok, itu yang menyiksa batinku.
Akhirnya secara terpaksa akupun berangkat kepondok tersebut untuk program mengajarku. santri yang nakal, kehidupan yang menyiksa terbayang bayang di perjalananku, sesampainya di pondok mojokerto aku merasa sangat lemas, aku pun hanya menjalani hari demi hari di situ, tetapi kehidupan berkata lain, setelah 4 sampai 5 hari disitu, aku merasakan kenyamanan yang luar biasa di pondok tersebut, aku merasa sangat dekat dengan santri santri dan dewan guru yang ada disitu, dan itupun terus berulang ulang sampai aku menganggap mereka sebagai keluargaku sendiri. aku sudah nyaman disitu, tapi ternyata aku terlena dengan kenyamanan itu, aku punya tujuan yang belum aku capai, dan akhirnya 1 bulan ku telah berakhir, aku harus meninggalkan keluarga baruku di mojokerto, sedih, haru hampir tak bisa kurelakan. tak sengaja nyanyian perpisahan terdengar, dan oh tuhan air mataku menetes, aku menangis, aku tak tahan merasakan perpisahan dengan keluarga baruku, tapi sebagai laki-laki aku juga malu, kenapa aku bisa menangis. akhirnya akupun pulang dengan hadiah hadiah surprise yang diberikan dari keluarga baruku. hampir satu minggu wajah wajah keluargaku di mojokerto masih terbayang, tapi aku harus tetap meneruskan usahaku dan sedikit demi sedikit berusaha menjadikan mereka kenangan yang tak akan pernah terlupakan.
Setelah 1 minggu lebih aku di pare, inilah waktunya aku menjalani Ujian Akhir, aku berfikir aku adalah yang terbodoh dari murid murid yang lain, aku adalah yang termuda jadinya aku yang sering dikucilkan dalam masalah pelajaran. akupun berdoa untuk dimudahkan segala ujianku, hari Senin adalah Ujianku di Surabaya, dan dengan tenang aku menjalani semua itu, Ujian pun selesai, dan aku hanya bisa berdoa supaya aku bisa lulus.
1 minggu kemudian pengumuman kelulusan ujian di umumkan, aku tidak berharap aku lulus di tes tersebut, karna ya mungkin kemampuan q belum sampai di situ, aku lihat grup W.A kelas ku, dan "kok ramai amat?" batinku, secara tidak sadar, ternyata aku lulus, dari 100 lebih peserta dari pare, hanya 10 yang lulus, dan aku termasuk di dalamnya. memang Tuhan memberi yang terbaik kepada kita semua, asalkan kita mau berusa dan lakukan faktor X yang saya beritahuakan tadi.
Sampai saat ini aku merasa tidak sadar, bahwa umurku masih 18 tahun, aku merasa tidak pantas untuk mengajar yang biasanya pengajar itu harus lebih tua dan lebih berpengalaman, tapi aku telah melakukannya, aku telah melewati semua itu. inilah bukti "Tuhan pasti memberikanmu yang terbaik."
Terimakasih telah membaca Cerita singkat pengalamanku selama umur 18 tahun ku ini....
Semoga menjadikan motivasi untuk kalian semua
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Wassalamualaikum Wr. Wb.




0 komentar: